Jumat, 30 Maret 2012

pengertian ilmu pengetahuan, agama dan akhlak


  BAB I
Pendahuluan
            Kehadiran agama islam yang dibawa nabi Muhammad SAW. Diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Didalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti seluas-luasnya.
            Petunjuk-petunjuk agama mengenai berbagai kehidupan manusia, sebagaimana terdapat didalam sumber ajarannya, al-Quran dan hadist, tampak amat ideal dan agung. Islam mengajarkan kehidupan yang dinamis dan progresif, menghargai akal pikiran melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bersikap seimbang dalam memenuhi kebutuhan material dan spiritual, senantiasa mengembangkan kepedulian sosial, menghargai waktu,bersikap terbuka, mencintai kebersihan, mengutamakan persaudaraan, berakhlak mulia, dan sikap-sikap positif lainnya.
Sejalan dengan pernyataan tersebut, Fazlur Rahman sampai pada satu tesis bahwa secara eksplit dasar ajaran Al-quran adalah moral yang memancarkan titik beratnya pada monostoeisme dan keadlian sosial. Tesis ini dapat dilihat misalnya pada ajaran tentang ibadah yang penuh dengan muatan peningkatan keimanan,  ketaqwaan yang diwujudkan dalam akhlak yang mulia.Hubungan keimanan dan ketakwaan dengan akhlak mulia demikian erat.
Selanjutnya hasil penelitian yang dilakukan Jalaluddin Rahmat terhadap Alquran menyimpulkan empat hal yang bertemakan tentang kepeduliannya terhadap masalah sosial . pertama, dalam alquran dan kitab-kitab hadist proporsi terbesar ditujukan pada urusan sosial. Kedua, dalam kenyataan bila urusan ibadah bersamaan waktunya dengan urusan muamalah yang penting maka ibadah boleh diperpendek atau ditangguhkan (tentu bukan ditinggalkan), ketiga, bahwa ibadah mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar daripada ibadah yang bersifat perseorangan. Keempat, bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena melanggar pantangan tertentu, maka kefaratnya (tebusannya) ialah melakukan sesuatu yang berhubungan dengan masalah sosial.
Gambaran ajaran Islam yang demikian ideal itu pernah dibuktikan dalam sejarah dan mafaatnya dirasakan oleh seluruh umat manusia didunia.
Namun, kenyataan Islam sekarang menampilkan keadaan yang jauh dari cita ideal tersebut. Ibadah yang dilakukan umat islam seperti salat,puasa, zakat, haji dan sebagainya hanya berhenti pada sebatas membayar kewajiban dan menjadi lambang kesalehan, sedangkan buah dari ibadah yang berdimensi kepedulian sosial sudah kurang tampak. Dikalangan masyarakat telah terjadi kesalahpahaman dalam memahami dan menghayati pesan simbolis keagamaan itu. Akibat dari kesalahpahaman memahami simbol-simbol keagamaan itu, agama lebih dihayati sebagai penyelamatan individu dan bukan sebagai keberkahan sosial secara bersama. Seolah tuhan tidak hadir dalam problematic sosial kita, kendati nama-Nya  semakin rajin disebut dimana-mana. Pesan spiritualitas agama menjadi mandeg. Terkristal dalam kumpulan mitos dan ungkapan simbolis tanpa makna tidak muncul didalam satu kesadaran kritis terhadap situasi actual.
Sekarang mungkin sudah saatnya kita mengembangkan indikasi keberagaman yang agak berbeda dengan yang kita miliki selama ini. Meningkatnya jumlah orang mengunjungi runah-rumah ibadah, berduyun-duyunnya orang pergi haji, dan sering munculnya tokoh-tokoh dalam acara sosial agama, sebenarnya barulah indikasi permukaan saja dalam masyarakat kita. Indikasi semacam ini tidak  menerangkan tentang prilaku keagamaan menjadi pertimbangan utama dalam berfikir maupun bertindak oleh individu maupun sosial.
Pengertian agama dari segi bahasa dapat kita ikuti antara lain uraian yang diberikan Harun Nasution. Menurutnya, dalam masyarakat Indonesia selain dari kata agama, dikenal pula kata din dari bahasa Arab dan kata religi dalam bahasa Eropa. Menurutnya, agama berasal dari kata Sanskrit. Manurut satu pendapat, demikian harun Nasution mengatakan, kata itu tersusun dari dua kata, a = tidak dang am = pergi, jadi agama artinya tidak pergi, tetap ditempat, diwarisi secara turun temurun. Hal demikian menunjukkan pada slaah satu sifat agama, yaitu diwarisi secara turun temurun dari satu generasi ke generasi lainnya. Selanjutnya ada lagi pendapat  yang mengatakan bahwa agama berarti teks atau kitab suci, dan agama-agama memang mempunyai kitab-kitab suci. Selanjutnya dikatakan lagi bahwa agama berarti tuntunan. Pengertian ini tampak menggambarkan salah satu fungsi agama sebagai tuntutan kehidupan manusia.
Selanjutnya din dalam bahasa semit berarti undang-undang atau hukum. Dalam bahasa arab kata ini mengandung arti menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan,dan kebiasaan. Pengertian ini juga sejalan dengan kandungan agama yang didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganut agama yang bersangkutan selanjutnya agama juga menguasai diri seseorang dan membuat tunduk.
BAB II
A.    Pengertian Ilmu Pengetahuan, agama , akhlak
1.      Pengertian ilmu pengetahuan
Sains modern menurut bahasa (etimologi) ialah suatu kepandaian baik yang termasuk jenis kebatinan meupun yang berkenaan dengan keadaan alam, dikelola dengan teknologi mutakhir atau teknologi maju, menurut istilah (terminologi) sanis modern ialah suatu bidang ilmu yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan segala bidang ilmu pengetahuan.1
Menurut M. Hamidullah
            Sains modern adalah kemampuan fakta-fakta  yang saling berhubungan antara yang satu dengan yang lain mengenai bidang-bidang tertentu secara modern paradisastra mengartikan sebagai ilmu yang sistematis disusun teratur dalam bidang tertentu yang jelas batasnya, mengenai sasaran, cara kerja dan tujuannya terarah.



2.      Pengertian Akhlak
            Dalam kamus Al-Munjid, khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama, ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia, memudian memberi nilai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila.3
Dilihat dari sudut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama yaitu tentang prilaku manusia:
1.      Abdul Hamid mengatakan: Akhlak adalah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kebaikan. Dan tentang keburukan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
2.      Ibrahim Anis mengatakan Akhlak adalah ilmu yang objeknya membahas nilai-nilai yang berkaitan dengan perbuatan manusia dapat disifatkan dengan baik dan buruknya.
3.      Imam Al-gahazali mengatakan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
  

B.     Perpaduan ilmu pengetahuan Agama tentang Akhlak
Akhlakul Karimah adalah konsep hidup yang lengkap dan tidak hanya mengatur hubungan antar manusia, alam sekitarnya tetapi juga terhadap penciptanya, Allah menciptakan ilmu pengetahuan bersumber dari Al-quran.
Umat islam diwajibkan oleh Allah untuk menuntut ilmu pengetahuan dunia ataupun Akhirat, kita agama islam adalah agama yang bersandarkan pada ilmu pengetahuan dan amal yang sempurna.
Orang yang berilmu juga berbeda dengan orang yang tidak berilmu (Q.s Azzumar ;9)1 hlm 152 (Q.S Al-Mujadallah ;11)
“menuntut ilmu diwajibkan mulai buaian sampai keliang lahad. Seseorang tanpa ilmu pengetahuan tidaklah berarti apa-apa.
Hubungan dengan akhlak Nabi Muhammad SAW telah berkata “Islam dibangun atas dasar yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat, mendirikan shalat, berpuasa, membayar zakat, dan haji.
Jika kepercayaan menuntut ilmu-ilmu ketuhanan (teologi), maka yang lain memerlukan suatu pelajaran ilmu-ilmu keduniawian, karena mengerjakan shalat, pekerjaan ini harus dimuliakan karena kejadian dari gejala (fenomena) alam tertentu yang ditentukan. Ini memerlukan pengetahuan unsur-unsur geografis dan astronomi.
Berpuasa juga memerlukan pengertian gejala alam, sebagaimana terbit fajar dan terbenam matahari, haji mengharuskan alat-alat pengangkutan untuk berjalan ke Makkah, membayar zakat memerlukan pengetahuan matematika dengan kalkulasi pembagian harta yang dimiliki. Sasaran keseluruhan adalah pengetahuan, begitu juga mempelajari Al-quran memerlukan skill, atas dasar itu bagi yang benar-benar mengamalkan ilmunya, ia sudah tergolong orang yang berakhlakul karimah.4                                                                               [1]


KESIMPULAN

-          Ilmu pengetahuan (sains) adalah suatu bidang ilmu yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu yang dapat digunakan untuk menerangkan segala bidang ilmu pengetahuan
-          Akhlak diartika sebagai ilmu yang berasaha mengenal tingkah laku manusia
-          Agama artinya tidak kacau, agama berarti tuntunan
-          Umat islam diwajibkan Allah untuk menuntut ilmu pengetahuan karena agama islam adalah agama yang bersandar pada ilmu pengetahuan dan amal yang sempurna.









DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Dr.M. Yatimin Studi Akhlak. Dalam perspektif Al-quran, jakarta; Amzah.2007
Nata, Abuddin,MA. Metedologi Studi Islam, jakarta; PT Remaja Grafindo Persada, 2007.



4 Opcit. Hlm. 153-154

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar